Meski pemilu pilpres 2014 masih lama, namun beberapa partai politik
telah menyibukan diri mempersiapkan figur yang mereka anggap layak
memimpin negara. Berbekal kemampuan yang belum banyak diketahui
masyarakat, namun para calon Presiden itu terlalu yakin bisa menjadi
yang terbaik. Apakah terbaik untuk negaranya, atau terbaik hanya untuk
dirinya sendiri.??
Tidaklah Dosa jika mereka tetap memilih maju
mencadi calon, toh mereka juga warga negara Indonesia yang diakui. Tapi
bukankah suatu kesan memaksakan kehendak jika dimata masyarakat figur
mereka dipertanyakan, dan mereka tidak perduli itu. Salah satu contoh
mungkin calon dari partai berlambang beringin Aburizal Bakrie (Ical).
Tidak ada yang meragukan kemampuanya dibidang ekonomi, terlebih dia
merupakan salah satu pengusaha tersukses tanah air,dia juga pakarnya
dibidang politik, terbukti dia sukses terpilih menjadi ketua umum
Golkar, bukan tidak mungkin pula dia mampu membawa Indonesia berjaya.
Tapi
apakah cukup semua itu digunakan sebagai modal untuk menjadi pemimpin
negeri, terlebih tidak sedikit masyarakat yang mempertanyakan tentang
tanggung jawabnya yang hingga kini masih belum bisa mengatasi polemik
Lumpur Lapindo miliknya, yang merugikan penduduk Sidoharjo hingga
triliyunan rupiah. Terselip pula isu yang menyebutkan Ical adalah salah
satu pengusaha yang hobi bermain bain dengan urusan perpajakan. Bukankah
itu merupakan kesan buruk yang hingga saat ini masih melekat
dipundaknya. Oleh sebab itu, tidak dapat disalahkan pula jika ada yang
beranggapan pencalonan Ical merupakan sikap memaksakan diri. Karena
memang dari pembangunan citranya sudah salah, dan semua itu terkesan
seperti permainan politik uang yang menguntungkan kalangan tertentu.
Sama
halnya dengan rencana pencalonan Ani Yudoyono sebagai calon Presiden
2014 oleh Partai Demokrat. Hal ini juga menimbulkan pertanyaan besar
dikalangan pengamat politik, terlebih masyarakat yang hingga kini masih
jauh dari zona kesejahteraan. Berbekal kemampuan yang belum jelas dimata
publik, para kader Demokrat tetap yakin berencana mendorong istri
Presiden SBY itu untuk tetap maju menjadi calon Presiden di pemilu
mendatang. Apa tidak ada calon lain yang lebih layak, apa memang
Demokrat sengaja mengambil keuntungan, terlebih Ani merupakan istri dari
SBY yang pada pemilu 2009 lalu kembali sukses mengeruk suara melimpah
dan mengantarkanya kembali terpilih menjadi Presiden untuk kedua
kalinya.
Hal ini sedikit banyak menimbulkan anggapan, politik
partai Demokrat adalah Politik Keluarga. Edi Baskoro Yudoyono merupakan
Sekjen partai, Ani Yudoyono adalah mantan wakil Ketua Umu partai, SBY
sendiri adalah Ketua Dewan Pembina partai. Hal ini sebenarnya tidak jauh
berbeda dengan Ketua Umum PDIP Mega Wati Soekarno Putri yang sebagian
besar anggota keluarganya merupakan pengurus partai. Tapi langkah
pencalonan Ani sebagai Capres menimbulkan anggapan, dan menjadi
perhatian tersendiri, terlebih saat ini Demokrat sedang dipusingkan oleh
ulah para kadernya yang tersandung kasus korupsi. Apakah SBY dan
Demokrat berencana mewariskan kekuasaan ketangan istrinya, demi
keuntungan kalangan tertentu. Atau memang tidak ada figur lain dalam
tubuh Demokrat yang dianggap pantas maju menjadi Capres 2014 mendatang..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar