Minggu, 20 Mei 2012

Politik Uang dan Kekuasaan Keluarga

Meski pemilu pilpres 2014 masih lama, namun beberapa partai politik telah menyibukan diri mempersiapkan figur yang mereka anggap layak memimpin negara. Berbekal kemampuan yang belum banyak diketahui masyarakat, namun para calon Presiden itu terlalu yakin bisa menjadi yang terbaik. Apakah terbaik untuk negaranya, atau terbaik hanya untuk dirinya sendiri.??
Tidaklah Dosa jika mereka tetap memilih maju mencadi calon, toh mereka juga warga negara Indonesia yang diakui.  Tapi bukankah suatu kesan memaksakan kehendak jika dimata masyarakat figur mereka dipertanyakan, dan mereka tidak perduli itu. Salah satu contoh mungkin calon dari partai berlambang beringin Aburizal Bakrie (Ical). Tidak ada yang meragukan kemampuanya dibidang ekonomi, terlebih dia merupakan salah satu pengusaha tersukses tanah air,dia juga pakarnya dibidang politik, terbukti dia sukses terpilih menjadi ketua umum Golkar, bukan tidak mungkin pula dia mampu membawa Indonesia berjaya.
Tapi apakah cukup semua itu digunakan sebagai modal untuk menjadi pemimpin negeri, terlebih tidak sedikit masyarakat yang mempertanyakan tentang tanggung jawabnya yang hingga kini masih belum bisa mengatasi polemik Lumpur Lapindo miliknya, yang merugikan penduduk Sidoharjo hingga triliyunan rupiah. Terselip pula isu yang menyebutkan Ical adalah salah satu pengusaha yang hobi bermain bain dengan urusan perpajakan. Bukankah itu merupakan kesan buruk yang hingga saat ini masih melekat dipundaknya. Oleh sebab itu, tidak dapat disalahkan pula jika ada yang beranggapan pencalonan Ical merupakan sikap memaksakan diri. Karena memang dari pembangunan citranya sudah salah, dan semua itu terkesan seperti permainan politik uang yang menguntungkan kalangan tertentu.
Sama halnya dengan rencana pencalonan Ani Yudoyono sebagai calon Presiden 2014 oleh Partai Demokrat. Hal ini juga menimbulkan pertanyaan besar dikalangan pengamat politik, terlebih masyarakat yang hingga kini masih jauh dari zona kesejahteraan. Berbekal kemampuan yang belum jelas dimata publik, para kader Demokrat tetap yakin berencana mendorong istri Presiden SBY itu untuk tetap maju menjadi calon Presiden di pemilu mendatang. Apa tidak ada calon lain yang lebih layak, apa memang Demokrat sengaja mengambil keuntungan, terlebih Ani merupakan istri dari SBY yang pada pemilu 2009 lalu kembali sukses mengeruk suara melimpah dan mengantarkanya kembali terpilih menjadi Presiden untuk kedua kalinya.
Hal ini sedikit banyak menimbulkan anggapan, politik partai Demokrat adalah Politik Keluarga. Edi Baskoro Yudoyono merupakan Sekjen partai, Ani Yudoyono adalah mantan wakil Ketua Umu partai, SBY sendiri adalah Ketua Dewan Pembina partai. Hal ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan Ketua Umum PDIP Mega Wati Soekarno Putri yang sebagian besar anggota keluarganya merupakan pengurus partai. Tapi langkah pencalonan Ani sebagai Capres menimbulkan anggapan, dan menjadi perhatian tersendiri, terlebih saat ini Demokrat sedang dipusingkan oleh ulah para kadernya yang tersandung kasus korupsi. Apakah SBY dan Demokrat berencana mewariskan kekuasaan ketangan istrinya, demi keuntungan kalangan tertentu. Atau memang tidak ada figur lain dalam tubuh Demokrat yang dianggap pantas maju menjadi Capres 2014 mendatang..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar