Teritung lebih dari 14
tahun peralihan orde pemerintahan menjadi era Reformasi di Indonesia. Harapan
menjadi negara maju, bersih dari carut marut urusan KKN dan lebih memihak
kepada kebebasan berpendapat oleh rakyat. Namun apa jadinya, peralihan masa
Orde Baru menjadi era Reformasi bukan menjadi langkah yang tepat. Kerasnya
kehidupan rakyat pinggiran menjadi hiburan kala penguasa penat menghitung
harta. Konflik yang seharusnya dapat terselesaikan sengaja tak tersentuh demi
memperpanjang program kerja yang mestinya telah usai. Dan yang paling sering
terjadi adalah, semakin banyaknya penyalahgunaan kekuasaan demi kepentingan
pribadi, bukankah itu menggembirakan???
Belum usai masalah
pengusutan kasus Century yang mulai memudar, kelincahan gerak kaki dan otak
Gayus dalam urusan pencucian uang dan pelarian dari penjara demi melepas
kerinduan bersama kebebasan, proyek wisma atlit dan pengadaan mega proyek
hambalang yang menyeret beberapa nama pejabat penting dan para petinggi partai.
Dibalik itu semua, KPK harus bekerja ekstra menggunduli rambutnya sendiri demi
berfikir bagaimana caranya kasus ini dapat terselesaikan.
Beberapa waktu yang
lalu, penerus Gayus di kantor perpajakan mulai beraksi, dan beberapa
diantaranya telah tertangkap basah ketika melakukan transaksi haram. Belum usai
kerja pemberantas korupsi menangani kasus-kasus sebelumnya, muncul berita yang
cukup mencengangkan. Proyek anggaran pengadaan kitab suci Al-Qur’an di
kementerian Agama mulai mengudara ke permukaan.
Agama kok dipermainkan,
kitab suci kok dibikin bahan korupsi, apa otak mereka sudah tidak berisi???????
Sungguh harta menjadi kaca mata yang membutakan, sungguh kekuasaan seperti
catobat yang menulikan telinga.....
Seberapa hebat
kekuasaan mereka didunia ini, seberapa hebat kekuatan mereka untuk mampu
menghirup nafas dunia, seberapa tangguh fisik mereka untuk mampu menerima azab
dari Tuhan??? Bukankan Agama itu merupakan jiwa manusia, hati manusia, dan tujuan
hidup bagi manusia. Terlalu bengal mereka untuk sekedar
mengerti...........!!!!!!!!

